Walhi Jabar Tolak Hutang 1,4 Triliun Untuk Citarum

oleh -
ilustrasi/net

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, sarankan pemerintah pusat dan Pemprov Jawa Barat, bisa memikirkan kembali soal pinjaman Bank Dunia sebesar Rp 1,4 triliun untuk menyelesaikan persoalan sampah Sungai Citarum.

Ketua Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan mengatakan, sebelum hutang 1,4 Triliun kepada Bank Dunia, sempat ada wacana hutang lewat Asian Development Bank (ADB) tentang program Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) atau Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Namun masyarakat sipil banyak yang tidak setuju.

“Saat ini kami juga tidak setuju dengan pendanannya dari bank dunia se-besar 1,4 T,”ujar Dadan saat dihubungi Radar Bandung, Jumat (14/6).

Menurut Dadan, selain hanya berhutang, sumber pendanaan Citarum bisa melalui APBN, APBD dan tanggung jawab perusahaan dalam mulihkan citarum itu sendiri. Mengingat, dikatakanya, banyak perusahan yang diuntungkan dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

“Kami keberatan atas hutang tersebut. Kalau bisa gubernur, Bapenas dan pemerintah pusat bisa pertimbangkan kembali agar tidak gunakan dana hutang,”ungkapnya.

Dadan menambahkan, alokasi anggaran dari APBD, APBN dan beberapa dana dari kementrian terkait yang fokus menangani Citarum masih belum maksimal.

“Semisal ada 10 persen dari 5 triliun ini satu triliun masih mungkin di alokasikan dari APBD pemprov Jabar saja. Belum dari yang lain,”kata dia.

Lebih lanjut, Dadan mengatakan, persoalan dari kurangnya alokasi dana dari APBD, APBN dan institusi terkait. Terlihat juga lemahnya soal komunikasi dari masing-nasing daerah soal penangana Citarum.

“Walhi melihat masih ada kelemahan konoslidasi internal. Artinya ini harus disampaikan 12 kepala daerah tentang alokasi anggaran APBD yang maksimal,”jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, ingatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bisa berhati-hati tentang pinjaman dana dari bank dunia sebesar 1,4 triliun, untuk mengatasi permasalahan sampah di Sungai Citarum.

Sebelumnya, Pemprov Jawa Barat mendapat suntikan dana dari hasil pinjaman Bank Dunia sebesar Rp 1,4 triliun untuk menyelesaikan persoalan sampah Sungai Citarum yang jadi sorotan dunia.

Dana tersebut akan digunakan untuk edukasi, menyiapkan infrastruktur wilayah, lokasi pemilihan sampah, serta menyiapkan teknologi terkait sampah, termasuk fasilitas daur ulang sampah menjadi bahan bakar.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jabar Daddy Rohanady menyampaikan, penggunaan dana pinjaman yang tergolong tidak sedikit jangan sampai tidaktepat sasaran dan akan menjadi sia-sia.

Daddy menjelaskan, selain akan jadi sia-sia jika peruntukannya tidak tepat sasaran, maka akan menjadi beban juga kepada penerus bangsa dalam membayar hutang-hutang tersebut.

Lebih lanjut, Daddy mengatakan, Citarum menghasilkan tiga waduk yang sudah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sehingga dari hasil PLTA tersebut seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan dana yang diperoleh untuk membantu revitalisasi.

Tanggapan lain juga keluar dari Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sri Priatni. Ia menyampaikan, kinerja Ridwan Kamil dalam menangani sungai Citarum itu sudah cukup baik. Ditambah saat ini mendapat suntikan dana dari pemerintah pusat dan Bank Dunia.

Meski demikian, Pihaknya merasa masih kurang dilibatkan secara langsung dalam penangan masalah sungai Citarum. Padahal beberapa kali LIPI sudah menciptakan alat untuk merubah limbah cair pabrik menjadi air layak buang.

Disinggung mengenai teknologi apa saja yang akan diberikan jika dimintai bantuan oleh pemprov Jawa Barat untuk terlibat langsung, Sri mengatakan, ada tiga teknologi yang akan di tawarkan.

Selain itu peneliti LIPI lainnya, Dawam Abdullah mengatakan, penanganan Sungai Citarum yang membentang sejauh 290 kilometer dan melintasi 12 kabupaten dan kota perlu memerlukan langkah yang tepat. Semisal, mulai dari pengangkatan sampah padat hingga mengolah sampah yang dibuang ke air.

Menurutnya, diperlukan pula langkah-langkah preventif untuk mengubah pola hidup masyarakat agar tidak terbiasa membuang sampah ke Sungai Citarum.

Reporter: Azis Zulkhairil
Editor: Nida Khairiyyah