TMB Rp1 Rupiah Sepi Penumpang

oleh -
tmb
TRANSPORTASI: Sejumlah penumpang saat menaiki Trans Metro Bandung di Terminal bus Alun-alun, Kota Bandung, Kamis (8/8/2019). (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG )

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Hampir satu pekan Trans Metro Bandung (TMB) bertarif Rp1 rupiah beroperasi. Namun, moda transportasi khusus buruh, guru honorer dan veteran itu nyatanya belum banyak dimanfaatkan. Rute yang dilalui, mahalnya harga kartu Brizzi BRI dan proses pendaftaran ulang yang berbelit menjadi faktor penyebabnya.

Ketua SBSI 92 Kota Bandung, Hermawan menegaskan, banyak kaum buruh yang mengeluhkan alur dan proses pemakaian TMB tersebut. Pertama, setiap penumpang (buruh) harus melakukan pendaftaran ke kantor Dishub di kawasan Gedebage.

“Kita inginnya mendapatkan kemudahan, mendaftar tidak usah ke Gedebage, cukup di Kantor Dishub yang di Leuwipanjang saja,” kata Hermawan, Senin (12/8).

Kemudian, sambung Hermawan, kartu Brizzi BRI yang cukup mahal yaitu Rp20 ribu. Kata dia, yang menjadi sorotan ialah harga kartu tersebut tidak termasuk dengan isi kuota.

“Kami inginnya bayar Rp20 ribu sudah ada isinya, apakah Rp10 ribu atau berapa. Jangan kosong sama sekali. Sudah beli kartu, harus beli kuota,” terangnya.

Selain itu, kata Hermawan, rute yang di lalui TMB Rp1 rupiah tersebut hanya melewati jalur tengah. Hal itu dinilainya tidak tepat sasaran dan seolah program asal-asalan.

“Seharusnya bus TMB bisa lewat ke kawasan industri. Jangan hanya di jalan-jalan utama. Kan bingung kalau rutenya di jalur tengah,” imbuhnya.

Hermawan mengungkapkan, pihaknya dalam waktu dekat bakal melakukan pertemuan dengan Dishub Kota Bandung untuk menggelar rapat terkait beberapa masalah kebijakan TMB Rp1 rupiah.

“Kami akan menggelar pertemuan lebih lanjut, kemungkinan Rabu depan,” katanya.

Hal senada diungkapkan Humas Forum Aksi Guru Honorer Indonesia (FAGI), Dedi Kusnadi. Menurutnya program TMB Rp1 rupiah yang dikeluarkan Pemkot Bandung
tidak tepat sasaran.

“Kami mempertanyakan tujuan program ini. Padahal, yang kami butuhkan
adalah pembayaran tunjangan daerah sesuai besaran dan tepat waktu,” kata Dedi.

Ia mengungkapkan, program penyediaan moda transportasi murah dari Pemkot Bandung belum tepat sasaran bahkan bisa dibilang mubazir. Buktinya bus sekolah saat ini tidak beroperasi maksimal.

“Bus sekolah sekarang cuman jadi besi tua, tidak bisa dipakai.
Anak-anak sekolah aja udah pake Grab. Bahkan, untuk TMB Rp1 rupiah saya belum mendapatkan sosialisasi apa-apa dari Dishub Kota Bandung,” paparnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Yudhiana membenarkan, kartu yang sudah dibeli (Brizzi BRI) harus didaftarkan langsung ke Kantor Dishub Kota Bandung di kawasan Gedebage dengan membawa beberapa persyaratan.

“Untuk pelajar, bisa membawa kartu pelajar. Sedangkan untuk veteran dan buruh, harus membawa KTP dan surat keterangan dari masing-masing asosiasi. Tidak lupa bawa kartu Brizzi yang sudah dimiliki,” ucap Yudhiana.

Yudhiana mengaku, sejak beroperasi TMB Rp1 rupiah memang baru sebagain warga yang mengakses fasilitas tersebut. Namun, yang paling mencolok yaitu dari perwakilan buruh yang belum sama sekali menggunakan TMB tersebut.

“Sebetulnya sudah ada yang menggunakan fasilitas ini, tapi memang belum seluruhnya. Untuk perwakilan veteran sudah ada 7 orang yang menggunakan. Untuk buruh sudah ada 20 orang yang menggunakan. Perwakilan buruh belum ada sama sekali,” pungkas Yudhiana.

(mur)