Tembakau Jabar tak Mampu Penuhi Pasar

oleh -
jabar
MEMILIH: Seorang petani tembakau sedang memilih daun tembakau sebelum di panen. (foto: IST)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Kebutuhan tembakau di Provinsi Jawa Barat mencapai 138 ribu ton. Namun, angka tersebut belum dapat dipenuhi petani.

Hal tersebut disampaikan, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jabar, Suryana. Menurutnya, produksi petani di Jabar sejauh ini hanya mencapai sekitar 38 ribu ton.
Suryana mengungkapkan, untuk memenuhi selisih angka 100 ribu ton kebutuhan akan tembakau. Terpaksa Provinsi Jabar menerima limpahan tembakau dari daerah lain.

“Selama ini Jabar ambil tembakau dari Provinsi Jawa Timur sekitar 70 ribu ton. Terus ada dari NTB (Nusa Tenggara Barat) sekitar 20 ribu ton. Sisanya dari daerah lain,” ujar Suryana, Selasa (13/8/2019).

Ketidakmampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pasar. Lanjut Suryana, dikarenakan minimnya lahan untuk menanam tembakau. Di Jabar sendiri, hanya memilki lahan sekitar 12 ribu hektare untuk bertani tembakau. Sedangkan untuk lahan pertanian tembakau non-musiman, hanya ada 22 ribu hektare di Jabar.

“Dari satu hektare ini petani bisa menghasilkan sekitar 1000-1200 kilogram tembakau kering yang merupakan gabungan dari daun dan batang. Sedangkan untuk daun kering saja mencapai 300 kilogram,” tuturnya

“Untuk menutupi kebutuhan tembakau di Jabar sedikitnya harus ada 72 ribu hektare lahan tembakau musiman,” sambung Suryana.

Saat disinggung keunggulan produk tembakau Jabar. Yana menjelaskan, salah satu keunggulan produk tembakau Jawa Barat yaitu hasil olahan daun kering tembakau dapat dibuat berbagai macam jenis tembakau. Diantaranya tembakau putih, merah, kuning, coklat, hijau.

“Perbedaan dari warna tembakau ini lebih ke kadar nikotinnya. Tembakau merah merupakan yang paling banyak nikotinnya, sedangkan tembakau putih yang nikotinnya paling rendah,” ungkap Suryana.

Ditemui di tempat yang sama, satu diantara petani tembakau, Momon Koswara mengungkapkan, meskipun banyak macam tembakau. Momon dan kelompok petani tembakau di Jabar kebanyakan menanam dua jenis tembakau, yaitu tembakau merah dan putih.

“Tembakau merah biasanya ditanam di daerah tinggi, sedangkan tembakau putih ditanam di dataran rendah bisa dipakai di lahan pesawahan,” tutur Momon.

Momon juga menyebutkan, pada saat musim kemarau. Petani tembakau lebih memilih menanam tembakau putih daripada tembakau merah. Pasalnya, dari sisi ketahanan tembakau putih lebih kuat meskipun dengan air sedikit.

“Keunggulannya ga mati, kalau bakau merah mah satu kebun pasti ada yang mati. Tahan cuaca dingin kalau bakau putih mah. pemupukan mah sama, air sama aja, yang membedakan hanya bibit saja,” Kata Momon.

Disisi lain, Momon menambahkan, dari segi ekonomi. Menanam tembakau tidak pernah merugi. Pasalnya, baik tembakau yang sudah siap dikonsumsi maupun tembakau masih berbentuk daun kering. Masih memiliki nilai ekonomis di pasaran.

“Cuma kalau tembakau jarang rugi, soalnya tembakau bisa dijual jadi atau jual mentah (daun). Kalau kita ingin penjualan lebih tinggi di proses di rumah,” pungkasnya.

(arh/net)