Krisis Air Bersih “Hantui” Warga

oleh -
air bersih
TINJAU: Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung, Sonny Salimi saat tinjau pasokan air. (foto: IST)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Kota Bandung masih “diteror” kekeringan. Sejumlah wilayah di kota kembang terancam kekurangan air bersih. Musababnya, sumber air baku kian hari semakin surut. Imbasnya, produksi air menurun.

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung, Sonny Salimi mengatakan, jika tidak turun hujan dalam waktu dekat sudah dapat dipastikan persediaan air di Kota Bandung hanya cukup untuk satu bulan ke depan.

“Sumber air baku yang kami miliki semakin surut, produksi air kami turun,” ujar Sonny, Kamis (12/9/2019).

Sonny menuturkan, PDAM Kota Bandung menghasilkan debit air sebanyak 1.800-1.900 liter per detik. Dengan semakin surutnya air di sumber mata air, maka kehilangan debet air sebanyak 700 liter per detik.

“Padahal normalnya membutuhkan air sebanyak 5.000-6.000 liter per detik. Namun kami hanya bisa memproduksi air sebanyak 2.500 liter per detik.
Sayangnya, sampai sekarang tidak ada solusi untuk kekurangan air,” paparnya.

“Untuk solusi jangka pendeknya, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa berdoa dan berharap agar bisa turun hujan dalam waktu dekat,” katanya.

Namun, sambung dia, untuk solusi jangka panjang sebaiknya dilakukan pengerukan di situ-situ yang sekarang dijadikan sumber air baku. Untuk aktifitas ini, harus dilakukan oleh pemerintah daerah.

“Kalau PDAM kan hanya operator, sehingga mengolah dan mengalirkan air bersih. sekarang kita hanya bergantung pada responsibilitas pemerintah untuk ketersediaan air baku, karena PDAM hanya instansi teknis,” paparnya.

Untuk instalasi di Badaksinga, kapasitas produksi normal 1800-1900 liter per detik. Sekarang ada beberapa penurunan, akibat dari kurangnya air baku. Sehingga hanya bisa 1.400-1.500 pangalengan sisanya dari dago bengkok.

Kemudian, penurunan air baku di Situ Cipanunjang, awalnya ketinggian 21 meter sekarang ketinggian 8 meter, penurunan per 15-20 centimeter per hari.
Untuk di Badaksinga, rata-rata menghasilkan air sebanyak 1600-1700 liter per detik, sekarang berkurang sekitar 200 liter perdetik. Lalu, di instalasi Dago Pakar, dalam kondisi normal bisa mengolah 600 liter perdetik.

“Untuk sudah mengalami penurunan sejak 3 minggu-1 bulan ke belakang turun sebanyak 70-80 liter per detik. Sehingga sekarang hanya menghasilkan air 520 liter perdetik,” tambahnya.

Sementara, untuk instalasi pengolahan Sungai Cibeureum, dalam kondisi normal bisa menghasilkan 100 liter perdetik, sekarang hanya menghasilkan 70 liter perdetik.

“Sedangkan untuk instalasi kecil di Cipanjalu, dalam kondisi normal menghasilkan air sebanyak 20 liter perdetik, sekarang hanya bisa menghasilkan 10 liter perdetik,” pungkasnya.

(mur)