Dua Maskapai Penerbangan Tinggalkan BIJB

oleh -
maskapai
BERJALAN: Penumpang saat berjalan menuju pesawat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati. ( IST)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) ditinggalkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Citilink karena sepi penumpang. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengakui hal itu disebabkan oleh aksesibilitas pendukung yang belum maksimal.

Sebelumnya, terdapat empat maskapai yang melayani penerbangan dari BIJB, yakni Lion Air, Air Asia, Garuda Indonesia dan Citilink. Namun, saat ini bandara yang berlokasi di Majalengka itu hanya dilayani Air Asia dan Lion Air.

Beberapa alasan melandasi dua maskapai pergi, salah satunya adalah kinerja perusahaan dari segi keuntungan yang tidak maksimal. Di lain pihak, Lion Air dan Air Asia melayani sembilan rute penerbangan domestik dengan frekuensi 12 hingga 15 penerbangan setiap harinya.

Ridwan Kamil menyatakan, dinamika BIJB karena jalan tol untuk akses masyarakat belum terbangun. Jadi, selama asksesibilitas yang memudahkan tidak tersedia, maka penumpang lebih memilih tempat lain.

“Saya kira kita harus cari cara jangka pendek. Makanya kita dorong bersama Kementrian PUPR untuk mempercepat, mohon doanya selesai jalan tol saya yakin dari sini (Bandung) ke sana (Kertajati) yang biasanya tiga jam bisa hanya 45 menit,” kata dia ditemui di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (17/9).

“Kuncinya jalan tol yang belum selesai membuat warga memilih pilihan yang mungkin lebih nyaman bagi mereka. Apapun pertanyaan Kertajati jawabannya itu,” ia menambahkan.

Saat ini, proyek pengerjaan jalan tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu) ia klaim sudah 50 persen. Ia mengaku akan terus memonitor agar tahun depan tol tersebut bisa rampung.

“Banyak kalau mau dibedah (permasalahan BIJB), seperti masalah tiket mahal, persepsi macam-macam, dinamikanya besar tapi intinya kami dari pemerintah selalu memaksimalkan keterbatasan yang ada. Kami tak tinggal diam. Tapi kan faktor ini namanya hubungan dagang antara konsumen dan pelayanan itu keputusannya ada di konsumennya. Konsumen akan memilih mana yang mudah dan nyaman,” ucap dia.

Dikonfirmasi terpisah, Airport Operation and Performance Group Head PT BIJB Agus Sugeng membenarkan, bahwa dua maskapai hengkang. Meski tidak spesifik, ia menolak bahwa tingkat keterisian penumpang tidak maksimal.

“Load factornya masih di atas 60 persen kok kalau di data kita. Per hari kita melayani 2.500 sampai 3.000 penumpang, rata rata. Kadang-kadang kan naik turun fluktuatif,” terang dia.

Disinggung mengenai strategi untuk menjaga maskapai bertahan, pihaknya mengaku sudah memberikan intensif atau memberi diskon untuk landing fee sampai satu tahun. Lalu yang kedua kita juga sosialisasi kerjasama dengan pemerintah daerah terutama provinsi.

(azs)