Sejarah Perkeretaapian Incar Turis Eropa

oleh -
Suasana Stasiun Lampegan di Kabupaten Cianjur. Disparbud Jawa Barat akan menggaet wisatawan daratan eropa dengan membuat tur khusus sejarah jalur kereta api.

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat serius menggaet wisatawan mancanegara dari daratan eropa. Salah satu caranya dengan membuat tur khusus sejarah jalur kereta api.

Kepala Disparbud Jabar, Dedi Taufik menjelaskan, konsep sejarah jalur kereta api ini adalah bagian dari edukasi sekaligus mempopulerkan opsi wisata baru. Jalur yang memungkinkan meliputi wilayah Bogor, Sukabumi dan Cianjur.

Perkembangan industri kereta api di tiga daerah tersebut sangat kental dengan sejarah Indonesia. Ia mencontohkan, Stasiun Bogor yang dibangun dua tingkat kerap digunakan oleh jenderal pada zaman kolonialisme.

Lalu, pada saat perang dunia kedua, ternyata Nazi Jerman masuk ke wilayah Jabar. Di antaranya, di kawasan Lido, daerah perbatasan Bogor-Sukabumi dan kawasan Cisaat terdapat kuburan tentara Nazi.

Kemudian, Cipetir dikenal sebagai tempat kawasan pabrik penghasil getah perca dari perkebunan karet yang digunakan sebagai bahan insulator kabel telegraf bawah laut Transatlantik pada abad ke 19.

Setelah melewati jalur itu, wisatawan akan disuguhi terowongan Lampegan, dilanjutkan menuju Situs Gunung Padang sebagai salah satu cagar budaya di Kabupaten Cianjur.

Semua rencana ini akan dibahas secara serius dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang akan didapuk sebagai fasilitator dari wisata tersebut. Bulan Maret sudah ada rencana kunjungan dari wisatawan asal Belanda.

“Tujuannya, kita ingin mengungkap bahwa kereta api yang melewati jalur-jalur pedalaman di Jabar yang kaya dengan sejarah. Kelebihan ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing,” kata dia saat dihubungi, Senin (24/2/2020).

“Tentu wisatawan asing dari kawasan asia, terutama eropa juga, ini kan salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisata dari eropa, seperti dari Belanda, Jerman atau Inggris. Wisatawan lokal juga tetap prioritas,” ia melanjutkan.

Target untuk meningkatkan kunjungan dari eropa memang menjadi salah satu prioritas karena catatannya belum impresif. Industri pariwisata masih didominasi turis dari Australia, China dan negara kawasan Asia Tenggara.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman asal Eropa ke Indonesia pada Januari-September 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama 2018 sebanyak 0,11 persen. Dari 1.566.900 wisman pada 2018 menjadi 1.565.200 wisman pada 2019.

Sementara itu, kunjungan wisman Amerika ke Indonesia pada Januari-September 2019 sebanyak 482.500 orang, mengalami kenaikan sebanyak 12,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 yaitu sebanyak 427.200 orang.

Pada bulan Desember 2019, masih berdasarkan BPS Jawa Barat, wisatawan asing didominasi warga Malaysia dengan 60,89 persen. Lalu, Singapura menempati urutan kedua dengan 23,27 persen. India dan Amerika Serikat berada di angka 0,99 persen. Disusul oleh turis asal Tiongkok sebesar 0,82 persen.

Sementara itu, Australia berada di angka 0,82 persen disusul Jepang 0,75 persen dan Korea Selatan 0,50 persen. Inggris berada di posisi buncit dengan angka 0,34 persen. Sementara 10 persen sisanya berkategori lainnya.

“Kunjungan wisatawan mancanegara yang tercatat melalui Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Pelabuhan Muarjati Cirebon,” pungkasnya.

(cr4)