Kata Peneliti, Trenggiling Mungkin Menjadi Inang Virus Corona

oleh -
Foto Ilustrasi Pojoksatu

RADARBANDUNG.id, JAKARTA – Para ahli percaya bahwa wabah virus corona berasal dari pasar hewan liar di Wuhan, Tiongkok. Studi yang dipimpin oleh Universitas Pertanian Tiongkok Selatan menemukan bahwa ada kemungkinan trenggiling menjadi inang dari virus corona.

Setelah menganalisis lebih dari 1.000 sampel, para ilmuwan menemukan bahwa urutan genom virus dalam trenggiling adalah 99 persen identik dengan yang dari orang yang terinfeksi. “Itu berarti trenggiling adalah inang coronavirus menengah yang paling mungkin,” kata Liu Yahong, seperti dilansir laman MSN, Minggu (9/2).

Trenggiling bersisik dianggap sebagai makanan lezat di Tiongkok dan negara-negara lain, dan sisik trenggiling digunakan dalam pengobatan tradisional. Padahal, trenggiling dilindungi oleh hukum internasional, tetapi mereka masih salah satu mamalia yang paling diperdagangkan di Asia.

Lebih dari satu juta trenggiling telah diburu dalam dasawarsa terakhir, yang membahayakan kelangsungan hidup spesies ini, menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam. Pada 2016, larangan diberlakukan pada perdagangan trenggiling, tetapi penjualan hewan tersebut tampaknya bertahan di beberapa bagian Asia dan Afrika.

“Informasi baru tentang trenggiling sebagai host perantara potensial dari coronavirus novel akan membantu dalam pencegahan dan pengendalian virus,” jelas Liu.

Para ahli kesehatan percaya bahwa jenis baru coronavirus kemungkinan berasal dari kelelawar sebelum melompat ke populasi manusia, mungkin melalui perantara seperti trenggiling.

Pakar penyakit menular, Dr. Ian Lipkin mengatakan bahwa virus serupa akan terus muncul “setiap dua tahun” selama pasar basah yang disebut menjual banyak spesies hewan tetap dalam bisnis.

Untuk itu, dia meminta pemerintah setempat untuk menutup pasar tesrebut. Tetapi langkah itu saja mungkin tidak cukup. “Sementara menutup pasar satwa liar bisa memiliki dampak besar, larangan itu sendiri tidak akan menghentikan perdagangan satwa liar ilegal jika permintaan terus berlanjut,” kata The World Wildlife Fund.