Butet Mengaku Kagum Akan Kemampuan Teknik Atlet Muda Zaman Sekarang

oleh -
Liliyana Natsir, menjadi salah seorang Tim Pencari Bakat Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019, di GOR KONI, Bandung. (Foto: Media Center Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Legenda bulutangkis Indonesia, Liliyana Natsir, bergabung menjadi tim pencari bakat dalam Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019.

Wanita berusia 33 tahun tersebut mengaku sedih kurangnya minat atlet perempuan dalam mengikuti audisi. Padahal, menurut Butet (sapaan akrabnya), banyak kesempatan yang dibuka lebar oleh PB Djarum dan Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) untuk kompetisi kelas tunggal putri atau ganda putri.

“Kita liat aja sekarang peserta wanita hampir ga setengahnya dari laki-laki, semoga saja yang bisa lolos sekarang terutama atlet wanita bisa membawa nama Indonesia lebih harum,” ujar Butet kepada wartawan di sela-sela kegiatannya, di Gor KONI Bandung, Senin (29/7/2019).

Selain itu, permasalahan kurangnya atlet wanita untuk bulutangkis Indonesia diakui Butet karena beragam faktor salah satunya izin dari keluarga. “Mungkin karena identik manja kali ya makanya gak dibolehin, tapi kalau dikasih kepercayaan dan terus didukung saya kira tidak ada lagi alasan seperti itu,” tambahnya.

Butet sendiri mengaku bangga untuk anak usia U-11 dan U-13 yang mengikuti Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019 memiliki potensi luar biasa. Bahkan, banyak diantaranya yang dilihat memiliki aura juara dengan sikap optimis serta kemampuan teknik yang diberikan.

“Kalau mereka masuk ke karantina baru deh ketahuan semua kekurangannya seperti apa, tapi untuk turnamen saat ini sih teknik yang ditunjukan sudah cukup keren,” imbuhnya.

Ia pun berharap untuk para peserta audisi jangan pernah ingin meniru permainan idolanya, melainkan harus menemukan ciri khas dari permainannya sendiri. “Memiliki idola boleh, tapi jangan meniru,” tegasnya.

Ia pun berharap, siapa pun yang nantinya lolos di babak final di Kudus jangan pernah tinggi hati karena perjalannya masih jauh. Butuh mental, kerja keras, serta kesabaran yang lebih lagi untuk mereka menjadi seorang pemain dunia.

Ia pun mengkhawatirkan untuk atlet muda saat ini memiliki persaingan tak hanya hanya dengan lawannya saja melainkan dirinya sendiri. “Hati-hati sama penggunaan gadget sih, bisa-bisa mereka jadi malas latihan karena asyik bermain. Kalau zaman saya kan beda banget, gak bisa main gadget dan jadi benar-benar fokus untuk latihan,” imbuhnya.

Dirinya membagi pengalamannya saat pertama kali merantau ke Jakarta ketika usianya 12 tahun, kemudian masuk karantina dengan aktivitas yang membosankan yakni latihan tiga kali sehari, istirahat dan belajar. “Kalau mau jadi atlet memang harus memalui semua itu, nanti juga ada hasilnya kalau mau sabar diiringi kerja keras dalam latihan, intinya kita harus menamkan ke dalam diri harus lebih giat dibandingkan yang lain,” beber juara dunia bulutangkis tersebut.

Disinggung perihal pengalaman tak terlupan di Kota Bandung, Butet mengaku dirinya sudah sejak lama bermain di Bandung. Bahkan, saat dirinya masih sering ikut kompetisi kelompok usia sebelum masuk Pelatnas.

“Bandung tuh bersejarah banget, mengawai karir ya juara dari Bandung saat usia masih belasan tahun. Sekarang bisa kembali ke Bandung seakan kembali ke masa lalu, apalagi melihat adik-adik kecil ini yang berusaha keras untuk bisa lolos,” pungkasnya.

Reporter: Nida Khairiyyah