Kejurnas Bola Voli U-17 Ajang Pengembangan dan Pendataan Bibit Atlet

oleh -
Ketua Panitia Pelaksana, Agus Djumaedi saat diwawancara di GOR Saparua, Jalan Saparua, Kota Bandung, Jumat (8/11/2019). (Asep rahmat/radar bandung)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bola Voli U-17 antar Klub tahun 2019 kembali dibuka. 38 tim terdiri dari 20 putri dan 18 putra, bakal bertanding pada 10-17 November 2019 di GOR Pajajaran dan GOR Tri Lomba Juang, Jalan Pajajaran Kota Bandung.

Ketua Panitia Pelaksana, Agus Djumaedi mengatakan, Kejurnas Bola Voli U-17 antar klub ini sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir. Untuk kali ini, Jawa Barat ditunjuk sebagai tuan rumah. Terkait jumlah peserta, pihaknya bersyukur jika dibandingkan dengan gelaran kejurnas sebelumnya.

“Sebelumnya paling banyak hanya diikuti 16 tim putra dan 16 tim putri,” ujar Boy sapaan Agus Djumaedi saat ditemui di GOR Saparua, Jalan Saparua, Kota Bandung, Jumat (8/11).

Boy melanjutkan, dalam Kejurnas 2019 sebenarnya panitia menyiapkan kuota bagi 32 tim putra dan 32 tim putri. Namun, hingga batas akhir pendaftaran pada 2 November 2019, hanya ada 20 tim putra dan 18 tim putri yang mendaftar.

Boy menyebut, selain Jabar tim yang mengikuti Kejurnas Bola Boli U-17 adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo.

“Kami memberikan ruang seluas-luasnya bagi klub bola voli di seluruh Indonesia untuk ikut berkompetisi,” jelasnya.

Kata Boy, tim asal Jabar akan diwakili sembilan orang terdiri dari 4 tim putra dan 5 tim putri. Keempat tim putra yakni Perkasa, M2GP, Tectona dan Pasundan. Sedangkan tim putri yakni Tectona, Bahana, Wahana, Antika dan Kharisma.

Boy menyebut, jika melihat lebih jauh Kejurnas Bola Voli U-17 antar Klub ini menjadi salah satu upaya meng-update data atlet dari setiap klub di setiap provinsi. Data tersebut akan berguna sebagai data base atlet yang dimiliki setiap provinsi, termasuk dari klub mana atlet yang bersangkutan berasal. Nantinya, data tersebut bisa mencegah terjadinya perpindahan atlet secara sembarangan dari satu klub ke klub yang lain.

“Jangan sampai ada klub bola voli yang hanya bisa ‘mencomot’ atlet yang sudah jadi dari klub lain tanpa melakukan pembinaan dari awal,” pungkasnya.

 

(arh)