OKB Masih Menjadi Film Favorit Keluarga

oleh -

RADARBANDUNG.ID, SEJAK perilisannya pada 24 Januari, kemarin, film Orang Kaya Baru (OKB) berhasil menarik penonton sebanyak 500 ribu. Film yang ternyata khayalan masa kecil sang penulis cerita, Joko Anwar ini menawarkan jalan cerita yang unik.

Kisah keluarga sederhana yang tiba-tiba menjadi orang kaya namun kekayaan itu juga menjadi bumerang bagi mereka.

Dibawah rumah produksi Screenplay dan Legacy, film ini seolah membawa angin segar bagi industri perfilman Indonesia. Bukan soal cinta remaja, tapi keluarga yang selalu ada dimasa-masa sesulit apapun.

Dibintangi oleh aktor dan aktris berbakat yakni Lukman Sardi, Cut Mini, Derby Romero, Raline Shah, dan Fatih Unru. Tiap karakter memiliki keunikan sendiri, seperti Bapak (Lukman Sardi) yang selalu fun walau tidak ada uang.

Ibu (Cut Mini) yang selalu masai dan antar jemput Dody (Fatih Unru) menggunakan sepeda motor lama, dan Tika (Raline Shah) yang pulang pergi kuliah menggunakan metromini.

Derby Romero bercerita proses syuting berjalan menyenangkan. Membangun chemistry antar pemain tidak dirasakan sulit meski mereka diharuskan menjadi keluarga.

Mantan kekasih aktris Dinda Kanya Dewi tersebut pada film berperan sebagai Duta, mahasiswa jurusan sutradara teater yang sedang berambisi membuat sebuah pagelaran teater megah.

Pertama kali dipercaya bermain dalam film komedi, Derby mengaku ini menjadi tantangan baru baginya. Namun para pemain membantunya menyelesaikan tugasnya sebagai Duta.

Selain itu, antar pemain memiliki peran berbeda sehingga mampu di cintai oleh masyarakat.

“Film ini buat saya pribadi sempurna karena memang semua peran tersentil, semua karakter disini saling berkesinambungan,” katanya ditemui dalam acara ‘Hujan Duit’ di Transmart Buah Batu, belum lama ini.

Maka dari itu Derby menyebut film ini sukses bukan karena satu peran saja. Namun hasil kerja keras keluarga kecil tersebut.

Untuk mendalami perannya sebagai sutradara teater, Derby banyak bertanya pada mahasiswa jurusan teater dan juga dokumen yang memuat soal perannya tersebut.

Tidak ada referensi aktor khusus yang dijadikan riset untuk perannya sekarang, lalu pria berkacamata itu juga enggan mengulang-ngulang sebuah film, katanya menghindari kesamaan tokoh yang sudah ada dengan dirinya.

“Gak mau banyak nonton karena nanti jadinya gak original. Kemudian untuk mendesain karakter saya juga gak mau nonton ulang sebuah film, pada film ini contohnya bahan riset saya lihat anak-anak teater dan dokumen mengenai sutradara teater,” paparnya.

Sejalan dengan Derby, aktor cilik Fatih Unru juga tidak mau ketinggalan menunjukkan kemampuannya berakting di depan layar kaca bioskop.

Peran Fatih sebagai Dody, adik dari Duta, dianggap menjadi ‘gong’ yang bisa membuat penonton menangis. Putra dari aktor senior, Yayu Unru, ini mengungkapkan banyak orang tersentuh berkat peran Dodi khususnya dalam adegan di meja makan.

Fatih menyebut saat menjalani adegan di ruang makan, para pemain ia anggap sebagai keluarga sendiri. Sehingga mampu menghadirkan momen krusial yang di ingat penonton.

“Banyak orang-orang yang menangis dalam adegan di meja makan, sebenarnya bukan penonton saja tetapi Dodi juga,” ucap aktor yang juga komika cilik tersebut.

Ia menyebut di tengah-tengah film karakter Dodi mengalami perubahan yang cukup sentimentil. Apabila diawal Dodi menjadi anak SD yang ceria di tengah kekurangan finansial keluarganya, ia berubah agar lebih memikirkan uang.

“Dodi mulai menjadi orang yang sedikit bijak, tapi ada perubahan karakter biar kasarnya cobalah duit dikit. Jadi membayangkan keluarga sendiri, bukan hal pribadi Fatih tetapi secara Dodi,” jelasnya.

Lebih lanjut, adegan tersebut memang menjadi momen terpenting karena semua keluh kesah dan masalah terpecahkan disana. Momen makan bersama dengan keluarga, memang menjadi aktivitas langka di tengah mobilitas tinggi masyarakat perkotaan, sutradara Ody C Harahap menyentil penonton dengan satu adegan yang nyatanya mampu membuat orang berpikir.

Premis yang disajikan dalam film OKB menarik dan merefleksikan fenomena sosial yang ada di sekitar masyarakat.

“Ada banyak pesan sosial dalam kehidupan keluarga dan masyarakat bagi penonton yang menyaksikan film ini. Interaksi antar karakter sangat berpengaruh,” tandasnya.

(fid)