Puluhan Radio Antik Dipamerkan di Bandung

oleh -
Foto: Taofik Achmad Hidayat

RADARBANDUNG.ID, KEHADIRAN radio sebagai media komunikasi sudah mengalami perjalanan cukup panjang dari mulai sebelum Perang Dunia sampai abad milenial, dari Revolusi Industri 1.0 sampai dengan Revolusi Industri 4.0.

Sejak awal teknologi radio tabung sampai dengan radio digital saat ini, dunia penyiaran dengan radionya masih tetap eksis sebagai media komunikasi publik yang tetap bisa berdampingan dengan media cetak, televisi, internet, dan juga media digital lainnya.

Radio bukan semata media pemberitaan, tetapi sudah menjadi media penyebaran pengetahuan dan hiburan.

Memperingati Hari Radio Internasional yang jatuh pada 13 Februari, Komunitas Radio Antik Bandung (KRAB) menggelar ‘Pameran Radio Antik’ yang digelar mulai tanggal 14-21 Februari di Museum Kota Bandung.

Melihat masih banyaknya masyarakat yang mengoleksi radio jadul, komunitas yang sudah berdiri selama 13 tahun ini optimis kehadiran radio masih dibutuhkan.

“Kami merancang pameran ini dengan pendekatan kuratorial kesejarahan dan peran penting dari radio yang berhubungan kurun waktu sebelum Perang Dunia I dan sesudah Perang Dunia II. Informasi yang disampaikan bukan hanya dari sisi sejarah saja, tetapi juga dari sisi teknologi, desain, dan bahan cangkang radio tersebut,” ucap Ketua KRAB, Andar Manik dilokasi, Kamis (14/2).

Sebanyak 41 radio dipamerkan pada gelaran ini yang diambil dari periode Perang Dunia 1 sampai pasca Perang Dunia 2.

Menurutnya, perkembangan teknologi radio berhubungan secara langsung dengan kebutuhan pemerintah Hindia Belanda saat itu, hal ini bisa dilihat dari sebuah artikel sejarah penyiaran yang di dalamnya menceritakan kehadiran siaran Ratu Wilhelmina pertamakali langsung dari Eindhoven kepada rakyatnya di Hindia Belanda atas jasa eksperimentasi teknologi para teknisi radio Philips, dengan station pemancar PHOHI (Philips Omroep Holland-Indië – Philips Broadcasting Organisation Netherlands Indies).

Yang spesial dari puluhan radio ini salah satunya adalah Philips BX676X. Radio ini merupakan milik Jenderal Soedirman di akhir 40-an dan sekarang tersimpan di Museum Sasmita Loka Yogjakarta.

Menggunakan radio ini Jenderal Soedirman pada masa peperangan memantau situasi terkini Tanah Air.

“Akhiran X pada nomer menunjukkan radio dapat dioperasikan dengan Aki atau sumber DC lainnya melalui vibrator converter,” sambungnya.

Gagasan untuk memamerkan koleksinya muncul ketika Jendela Ide menggelar pertunjukan musik Sabuga Jazz Fest For Freedom tahun 2008, event Jazz untuk meperingati hari Kemerdekaan Indonesia di Sabuga, Lembaga Budaya Anak dan Remaja yang kegiatannya memfasilitasi lembaga Pendidikan untuk bidang kreatifitas dan nilai kesetaraan serta penghargaan terhadap perbedaan.

Menghadirkan radio tabung di ruang pertunjukan musik adalah ide yang genial karena mendekatkan para penggiat musik dengan media yang dulu menjadi alat pertama ketika mereka mengenal musik melalui radio.

“Membangkitkan memori untuk bernostalgia, memunculkan kembali ingatan tentang idolanya yang dahulu suaranya didengarnya dari radio jadul, ketika mereka masih remaja atau bahkan pada saat mereka masih anak-anak,” tandasnya.

Salah satu event pameran yang boleh dibilang cukup fenomenal ketika rekan rekan KRAB memamerkan koleksinya pada saat peringatan KAA Tahun 2010 dan salah satu anggota, Kang Dedi, berhasil merekonstruksi siaran pidato Bung Karno saat  KAA 1955 melalui pemancar rakitan yang kemudian ditangkap oleh radio Philips BX 459 A/11 dalam Gedung Merdeka.

Penulis: Nur Fidhiah Shabrina