Antisipasi Virus Corona, Bandara Husein Diperketat

oleh -
Petugas kesehatan Bandara Husein Sastranegara mengecek Alat Thermal Scanner, Kamis (23/1/2020).

RADARBANDUNG.com, BANDUNG – Tak mau kecolongan, Bandara Husein Sastranegara memperketat pengamanan seiring beredarnya wabah virus corona. Pihak bandara sudah memasang alat thermal scanner yang bisa mendeteksi suhu tinggi dari penumpang yang baru melakukan perjalanan luar negeri.

Alat Thermal Scanner sendiri sebenarnya sudah dipasang sejak beberapa tahun lalu dan dipasang dipintu kedatangan internasional. Untuk meningkatkan pelayanan, pihak bandara menggunakan thermal scanner yang sudah diperbaharui yakni akhir tahun 2017.

Menurut Koordinator Posko Pelayanan Kesehatan Bandara Hussein Sastranegara, dr Amriyah Suci Nurani, untuk mendeteksi salah satu gejala infeksi coronavirus, dipintu masuk negara setiap penumpang dari perjalanan internasional akan dicek suhu badannya menggunakan thermal scanner. Apabila suhu badan mencapai 38 derajat celsius, maka akan diinvestigasi dan dibawa ke ruangan khusus untuk dicek lebih lanjut.

“Kalau setelah diperiksa gejalanya mengarah pada virus korona maka kami rujuk ke rumah sakit rujukan Jabar yaitu Hasan Sadikin (RSHS). Karena cuma di sana yang punya ruangan khusus penyakit karantina,” katanya di Bandara Hussein Sastranegara, Kamis (23/1/2020).

Amriyah menambahkan virus ini cukup berbahaya apabila masuk ke Indonesia. Karena langsung menyerang paru-paru dan bisa menyebabkan gagal napas. Tidak cuma di Bandara Hussein, alat thermal scanner juga dipasang di Bandar Udara International Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

Untuk bersiaga, Amriyah menyarankan penumpang yang baru melakukan perjalanan internasional atau berinteraksi dengan orang yang baru pulang dari negara Cina dalam masa 14 hari apabila merasakan demam dengan disertai sesak nafas, untuk segera memeriksakan diri ke puskemas terdekat. “Sejauh ini tidak ada yang terdeteksi. Mudah-mudahan jangan sampai,” sambungnya.

Disebutkan gejala awal dari virus ini adalah demam tinggi disertai sesak napas atau napas yang pendek. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Bandung melaksanakan kesiapsiagaan apabila nantinya coronavirus ini masuk kategori KKM (Kegawatdaruratan Kesehatan Masyarakat) maka penumpang kedatangan internasional akan diberikan kartu kewaspadaan yaitu HAC (Health Alert Card).

Ia juga mengimbau kepada masyarakat yang berencana melakukan perjalanan ke negara Cina untuk menunda dan apabila berinteraksi dengan orang atau hewan yang berasal dari daerah penularan corona virus yaitu Wuhan, Cina dalam 14 hari dan merasakan keluhan demam, batuk disertai sesak nafas untuk segera melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Sebagai informasi, virus misterius bernama 2019-nCoV telah menyebabkan wabah penyakit yang mirip pneumonia di Cina. Virus ini dilaporkan telah menyebar ke negara-negara lain seperti Thailand dan Jepang. Virus ini diketahui dari jenis coronavirus. Coronavirus ialah keluarga virus yang dapat menyebabkan gejala seperti Infeksi Sal Pernafasan atas yang ringan hingga severe acute respiratory syndrome (SARS).

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung siap siaga dengan ancaman wabah Corona. Surat edaran kewaspadaan dini pun telah dilayangkan kepada semua fasilitas kesehatan Kota Bandung, baik puskesmas maupun rumah sakit. Seluruh puskesmas dan rumah sakit diinstruksikan agar segera melapor jika menemukan kasus pneumonia yang “asing” atau kasus dengan diagnosis yang belum bisa terdeteksi secara pasti.

“Kami telah mendapat surat dari Kemenkes terkait kewaspadaan akan corona. Berhubungan dengan itu, sejak minggu kedua Januari, puskesmas dan rumah sakit telah kami wajibkan melapor jika ada kasus yang tidak seperti biasanya. Mewaspadai pasien dengan keluhan batuk, demam tinggi, sesak nafas, namun diagnosisnya belum bisa tegakkan,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Dinkes Kota Bandung, Rosye Arosdiani Apip, saat ditemui Radar Bandung, Kamis (23/1/2020).

Sementara itu, Rosye mengaku belum mendapatkan informasi resmi dari Kemenkes terkait rumah sakit yang akan dipersiapkan sebagai pusat rujukan untuk penyakit baru atau emerging disease tersebut. Namun, jika berkaca pada kasus serupa, seperti wabah flu burung, dua rumah sakit di Bandung yakni RS Hasan Sadikin (RSHS) dan RS Paru Rotinsulu pernah menjadi rujukan untuk kasus flu burung, yang kala itu masuk dalam kategori emerging disease. Sehingga, sambung Rosye, RSHS dan RS Paru Rotinsulu mungkin akan dijadikan rujukan pusat untuk kasus Corona nantinya.

“Kami belum menerima surat dari Kemenkes terkait rumah sakit mana yang akan ditunjuk sebagai pusat rujukan. Mungkin masih dalam pembahasan di pusat. Yang pasti, kami akan mempersipakan rumah sakit di daerah kami,” terangnya.

Meski pihak Dinkes Kota Bandung masih menunggu keputusan resmi dari Kemenkes, saat ini Dinkes tetap akan mengoptimalkan semua fasilitas kesehatan di daerahnya sesuai dengan kapasitasnya, minimal dalam upaya pendeteksian awal. Lebih lanjut, menurut Rosye, Dinkes akan mengadakan pertemuan dengan pihak rumah sakit dan puskesmas se-Kota Bandung.

“Waktunya kemungkinan pekan depan. Pertemuan tersebut intinya akan membahas peningkatan kewaspadaan terhadap wabah Corona,” imbuhnya.

Di samping upaya dari pemerintah dan otoritas layanan kesehatan, Rosye pun menekankan bahwa tindakan preventif harus dilakukan juga oleh masyarakat. Masyarakat harus menyadari ancaman wabah Corona. Namun, Rosye mengingatkan, hal tersebut bukan untuk memicu kepanikan, tapi guna meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri jika tiba-tiba mengalami demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Hal lain yang patut diterapkan adalah etika batuk. Rosye menjelaskan, ketika batuk disarankan untuk menutup mulut dengan kain atau tisu, agar sebaran virus yang terbawa saat batuk bisa diminimalisasi. Penggunaan masker, serta mencuci tangan setelah aktivitas pun menurut Rosye kini penting untuk dibiasakan.

“Terkait wabah Corona ini, kami di daerah lebih diarahkan untuk mendeteksi dan memberikan edukasi kepada masyarakat,” pungkas Rosye.

(fid/cr4)