Majelis Hakim Tolak Eksepsi THK

oleh -
Suasana Sidang putusan sela terdakwa Bandung,Kamis (30/01/20)

RADARBANDUNG.com, BANDUNG – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung menolak eksepsi kuasa hukum terdakwa, Tjin Hui Kun (THK) dalam sidang putusan sela perkara nomor 1432 yang berlangsung di ruang sidang PN Bandung Jl RE Martadinata, Bandung, Kamis (30/1/2020).

THK adalah mantan kepala bagian keuangan (Kabagkeu) , CV Citra Rasa –perusahaan kecap nasional perwakilan bandung. THK dimejahijaukan karena menggelapkan uang perusahaan sebesar Rp1,2 miliar. Terdakwa didakwa melanggar pasal 374 dan 378 KUHPidana tentang penggelapan.

“Menimbang bahwa atas keberatan yang dilakukan kuasa hukum terdakwa. Majelis hakim setelah mempelajarinya pokok-pokok keberatan sebagaimana yang disampaikan tersebut, menolak keberatan dari kuasa hukum terdakwa,” kata Hakim Ketua Suko Harsono SH MH.

Suko menjelaskan, dakwaan yang telah disusun oleh penuntut umum telah memenuhi ketentuan.

“Mengenai alasan-alasan yang telah katakan penasehat hukum terdakwa, kami tidak sependapat. Dengan demikian, Hakim sependapat dengan dakwaan sebagaimana yang telah disampaikan oleh jaksa penuntut umum (JPU),” katanya.

Dengan demikian, Majelis Hakim berkeinginan agar jaksa penuntut umum, untuk melanjutkan perkara ini, dan membuktikan dakwaannya dengan meminta keterangan para saksi.

Setelah meminta keterangan dari JPU, Mustaqim SH MH. Hakim mengatakan sidang keterangan saksi-saksi akan berlangsung Kamis 6 Februari 2020.

Pada perkara ini, THK didakwa menggelapkan uang perusahaan dan memalsukan rekening koran sebesar Rp 1,2 miliar lebih.

Ia menjadi terdakwa setelah sebelumnya dilaporkan oleh pihak perusahaan pada 25 Februari 2018.

Berdasarkan dakwaan dari JPU, perbuatan THK terbongkar karena salah kirimnya laporan rekening koran dari Bank UOB Bandung kepada bagian Internal Kontrol perusahaan.

Sejak tahun 2014 hingga tahun 2017, THK setiap bulan mengirim laporan rekening koran ke Internal Kontrol hanya memberi foto copy-nya saja.

Namun pada pengiriman terakhir yang dilakukan 20 September 2018 lewat angkutan barang perusahaan, terdakwa THK salah mengirim.

Saat itu yang dikirim benar-benar asli dari fisik rekening koran. Tanpa diminta, THK mengakui perbuatannya telah menggelapkan uang perusahaan dengan melakukan pemalsuan rekening koran.

Setelah ditelusuri, pihak perusahaan kemudian membandingkan data rekening koran yang asli dan yang palsu (foto copy).

(azm)