BRI Insurance Redesain Model Bisnis Guna Menjawab Tantangan Perubahan Situasi Bisnis

oleh -
Dirut BRI Insurance Fankar Umran

BRI Insurance Redesain Model Bisnis Guna Menjawab Tantangan Perubahan Situasi Bisnis

RADARBANDUNG.id- BRI Insurance genap berusia 31 tahun. Berbagai terobosan baru diluncurkan, agar misi dan visi bisnis industri ini tetap eksis di tengah pandemi.

Kini, BRI Insurance tengah fokus melakukan beberapa pembenahan  dengan bertransformasi demi mencapai berbagai target yang telah dicanangkan.

“Di tengah masa sulit seperti sekarang ini karena Covid-19 kita perlu bertransformasi  menjawab  perubahan yang tengah terjadi di masyarakat,” ungkap Direktur Utama BRI Insurance, Fankar Umran kepada media, Kamis (30/7/2020).

Menurut Fankar, BRI Insurance sedang mengakomodir kebutuhan nasabah melalui bussiness model dalam  bentuk transformasi digital marketing yang memakai channel-channel distribusi digital. Di antaranya aplikasi smartphone bernama BRINS Mobile.

‘Dengan aplikasi ini, kebutuhan nasabah akan terlayani,  mulai dari memilih sendiri jenis produk asuransi yang dibutuhkan hingga mengajukan klaim secara online,” jelasnya.

Fankar menambahkan, melalui transformasi yang sedang dilaksanakan, bisnis industri BRI Insurance yang dipimpinnya dapat tumbuh menjadi salah satu asuransi terbaik pada masa yang akan datang. Targetnya jelas, berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya.

“Insya Allah dalam beberapa tahun lagi akan tercapai,” imbuhnya.

Bergabungnya BRI Insurance dalam grup BRI pun kian mempermantap penetrasi ke dalam captive market BRI dan disversifikasi bisnis.

Hal ini sejalan dengan fokus jangka panjang BRI Insurance untuk menyeimbangkan bisnis di segmen mikro, ritel dan korporasi. “Sekarang ini 60-70% di captive (BRI) yang 30%, kami berikan kepada yang lainnya. Dengan demikian, kami melakukan disversifikasi bisnis dan risiko,” katanya.

Selain melakukan transformasi bisnis, BRI Insurance juga telah melakukan transformasi culture atau budaya, dalam rangka mengantisipasi berbagai tantangan di masa depan. Karena bagi perusahaan, culture berkaitan erat dengan kinerja dan keberhasilan.

“A healthy strong culture is a key driver of corporate strategy. Culture yang sehat, membuat perusahaan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Jadi, kunci sukses strategi adalah culture yang sehat dan kuat,” tutur Fankar.

Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2019, indeks literasi keuangan nasional hanya mencapai 38,03%. Dari indeks tersebut, sektor perbankan menduduki presentase tertinggi dengan 36,12%, kemudian asuransi 19,40%.

“Itu adalah tantangan yang harus dijawab semua pemangku kepentingan demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat Indonesia,,” demikian Fankar.

(*)