Masker Scuba Dipersoalkan, Pedagang di Bandung Pusing Omzet Anjlok

oleh -
Masker Scuba Dipersoalkan, Pedagang di Bandung Pusing Omzet Anjlok
Salah satu pedagang masker yang menjual masker scuba di Kota Bandung. Foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

RADARBANDUNG.id, BANDUNG Pemerintah tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff, khususnya di moda transportasi publik.

Pemakaian masker jenis scuba yang dipersoalkan pemerintah memukul omzet pedagang masker di Bandung.

Pedagang mengeluhkan omzet jatuh. Apalagi mereka yang kadung membeli stok barang.

Pedagang masker di Jalan Supratman, Kota Bandung, Arif (48) misalnya.

Ia mengatakan, masker scuba banyak dicari pembeli selama pandemi Covid-19.

Selain karena harganya yang relatif terjangkau, penggunaannya dikatakan lebih praktis serta banyak pilihan.

Sebelum dipersoalkan pemerintah, penjualannya bisa mencapai 2 hingga 5 lusin perhari.

Namun, sepekan ini, rata-rata ia hanya bisa menjual 2 hingga 5 helai.

“Sangat merosot. Pelanggan jadi tidak mau beli masker scuba,” kata Arif, Selasa (22/9/2020).

“Scuba tidak ribet dipakai. Awalnya banyak sekali yang beli, saya jual Rp 10 ribu, bisa diskon kalau pemesanan banyak,” imbuhnya lagi.

Stok yang sudah kadung dibeli Arif sekitar 20 lusin. Untuk memutar modal, tak ada pilihan baginya untuk tetap menjualnya.

Meskipun dengan kondisi sekarang, Arif khawatir, stok miliknya itu bakal tak laku dijual.

“Saya berharap pemerintah bisa membantu. Misalnya membeli stok kami, lalu membuat masker scuba jadi sesuai standar, kan bisa dijait ulang ditambah kain,” harapnya.

Baca Juga: Dilema Pemprov Jabar, Telanjur Pesan 8 Juta Masker Scuba

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan masyarakat untuk patuh memakai masker.

Masker kain 3 lapis untuk masyarakat umum dan masker setara bedah atau medis untuk lansia.