BMKG Bandung: Waspadai Fenomena La Nina dan IOD Negatif

oleh -
BMKG Bandung: Waspadai Fenomena La Nina dan IOD Negatif
Hujan Es Landa Bogor pada Rabu (23/9/2020) sore/IST

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Yan Firdaus memperingati wilayah yang terlewati Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum memiliki kerentanan tinggi terkait bencana hidrometeorologis.

Daerah Jabar yang paling rentan terkena bencana hidrometeorologi, sebut Yan adalah daerah Jabodetabek. Selain itu, ada tiga wilayah lain yang juga memiliki kerentanan bencana itu.

“Indramayu, Subang, dan Cirebon juga menjadi daerah yang rentan terkena bencana banjir rob dan angin kencang,” ucap Yan.

“Namun tak berarti daerah lainnya tidak rentan, masyarakat Jawa Barat umumnya harus selalu waspada bencana alam, terutama dalam menghadapi musim hujan,” sambungnya.

Berdasarkan pantauan BMKG, beberapa wilayah Jabar sudah memasuki musim hujan.

Seperti Kota dan Kabupaten Tangerang bagian selatan, Depok, Bogor bagian utara dan timur laut.

Namun, beberapa daerah seperti Bogor bagian barat dan timur, Sukabumi sebelah utara, dan Cianjur utara secara alami memiliki curah hujan lebih tinggi dari daerah lain.

“Puncak musim hujan Jawa Barat umumnya akan terjadi Januari dan Februari 2021,” sebut Yan.

  • Fenomena La Nina

Yan membenarkan, curah hujan berpotensi meningkat seiringi dengan adanya fenomena La Nina.

La Nina adalah fenomena anomali iklim berskala global ketika suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin daripada kondisi normalnya.

Perubahan suhu permukaan laut itu, juga diikuti perubahan sirkulasi atmosfer di atasnya berupa peningkatan angin pasat timuran lebih kuat dari kondisi normalnya.

Sehingga dampaknya adalah meningkatnya curah hujan wilayah Indonesia atau tepatnya Indonesian Maritime Continent.

Tak hanya La Nina, dalam pantauan BMKG terdapat juga fenomena lain yang sedang berlangsung, yakni fenomena IOD negatif.

IOD adalah Indian Ocean Dipole yaitu fenomena lautan-atmosfer daerah ekuator Samudera Hindia yang mempengaruhi iklim Indonesia dan negara-negara lain sekitar cekungan (basin) Samudera Hindia.

IOD negatif berdampak meningkatnya curah hujan terutama wilayah barat Indonesia.

“Dampak kombinasi dari La Nina dan IOD negatif ini adalah meningkatnya jumlah curah hujan hampir seluruh wilayah Indonesia,” kata Yan.

“Untuk wilayah Jawa Barat sendiri kombinasi kedua kejadian ini dapat meningkatkan jumlah curah hujan lebih dari 150 mm/bulan,” terangnya.

Baca Juga: Tetap Waspada! LIPI Sebut Gempa dan Tsunami Raksasa akan Berulang

Yan mengimbau, masyarakat dapat lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim hujan.

Terutama wilayah yang rentan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Misalnya, menjaga kesehatan dan lingkungan tempat tinggal masing-masing sehingga mengurangi tingkat kerawanan bencana hidrometeorologis.

Baca Juga: Soal Potensi Gempa dan Tsunami 20 Meter, Ini Pesan Penting BMKG

Yan juga menegaskan, perlunya kewaspadaan dan penyiapan secara optimal untuk upaya mitigasi.

“Jangan panik dan mudah termakan berita hoax dengan selalu memantau informasi dari BMKG, terutama terkait dengan peringatan cuaca dan tinggi gelombang,” pungkasnya.

(muh)