RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Dinamika internal Partai Golkar Jawa Barat pasca-Musyawarah Daerah (Musda) mulai menunjukkan arah rekonsiliasi.
Anggota DPD Partai Golkar Jabar, Asep Suparman memastikan seluruh gerbong pendukung Ahmad Hidayat akan tetap terakomodasi dalam struktur kepengurusan periode mendatang.
Langkah ini menyusul adanya kompromi politik saat Musda, di mana Ahmad Hidayat tidak melanjutkan pencalonan sebagai ketua demi menjaga stabilitas partai. Sebagai gantinya, Ahmad diproyeksikan bakal menempati posisi strategis sebagai Sekretaris DPD Golkar Jawa Barat.
Baca juga: Dinamika Golkar Jabar, Pengamat Ingatkan Logika Keseimbangan di Kepengurusan
“Pak Ahmad memiliki komitmen kuat. Bukan hanya soal posisi pribadi, tapi beliau memastikan gerbong pendukungnya, baik dari DPD kabupaten/kota maupun organisasi kemasyarakatan (Ormas), ikut terakomodasi dalam kepengurusan baru,” ujar Asep di Bandung, Rabu (8/4).
Asep menegaskan mundurnya Ahmad Hidayat dalam kontestasi ketua bukan indikasi kekalahan, melainkan bentuk kesepakatan tingkat tinggi untuk meredam potensi konflik internal. Hal ini sejalan dengan visi Ketua DPD Golkar Jabar terpilih, Daniel Mutaqien, yang ingin menghapus sekat antar-kubu.
“Dalam tradisi Golkar, pertandingan selesai di Musda. Setelah itu, tidak ada lagi kubu-kubuan. Semua kembali menyatu untuk membesarkan partai,” tambah Asep.
Baca juga: Musda Golkar Jabar 2026 Memanas, Ahmad Hidayat dan Daniel Mutaqien Berebut Kursi Ketua
Kabarnya, penempatan Ahmad Hidayat sebagai sekretaris juga menjadi perhatian khusus dari DPP Partai Golkar guna memastikan transisi kepemimpinan di Jawa Barat berjalan mulus.
Selain aspek internal, penunjukan Ahmad Hidayat sebagai sekretaris dinilai bakal memberikan nilai tambah bagi Golkar Jabar dalam hal komunikasi eksternal. Ahmad dikenal memiliki kedekatan emosional dan historis dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Asep menilai hubungan cair antara sekretaris partai dan kepala daerah sangat menguntungkan bagi kelancaran program-program politik di Jawa Barat.
Baca juga: Bedah Buku Soekarno: Kuantar ke Gerbang, Ade Wardhana: Pemuda Adalah Gerakan Perubahan Bangsa
“Secara historis, Pak Dedi Mulyadi pernah menjabat Ketua DPD Golkar Jabar. Kedekatan ini sangat wajar dan justru menguntungkan partai. Jika sekretarisnya berbasis di Bandung dan punya akses langsung ke gubernur, komunikasi politik bisa jauh lebih intens dan cair,” jelasnya.
Meski proyeksi kepengurusan sudah mulai mengerucut, Asep mengaku masih menunggu hasil akhir dari rapat tim formatur yang bertugas menyusun struktur lengkap DPD Golkar Jabar periode 2026-2031.
“Hasil resminya kita tunggu dari formatur. Namun yang pasti, semangat yang diusung adalah semangat kebersamaan dan penguatan mesin partai menuju agenda-agenda politik ke depan,” pungkasnya.
Baca juga: Ketua Satkar Ulama Sebut Daniel Mutaqien Cocok Memimpin Golkar Jawa Barat
(dbs)