RADARBANDUNG.ID, KOTA BANDUNG – Memasuki April 2026, proyek galian Infrastruktur Pasif Terpadu (IPT) di Kota Bandung memasuki tahap keempat dengan progres signifikan. Sejumlah ruas jalan yang sebelumnya terdampak penggalian kini mulai diperbaiki, di tengah pengawasan ketat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga.
Pemkot Bandung melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) memastikan proyek ini tidak hanya dikebut dari sisi progres, tetapi juga kualitas hasil pekerjaan di lapangan. Pengawasan dilakukan agar tidak ada pekerjaan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kepala Diskominfo Kota Bandung, Henryco Arie Sapiie menegaskan pihaknya aktif mengawal jalannya proyek. Ia menekankan setiap tahapan pekerjaan harus memenuhi standar keamanan dan tidak meninggalkan risiko bagi warga.
Baca juga: Lanud Husein Pastikan Kesiapan Operasional, Perbaikan Akses Bandara Jadi Perhatian
“Pengawasan ini penting agar hasil pengerjaan benar-benar optimal dan tidak membahayakan masyarakat, terutama di ruas jalan yang padat aktivitas,” ujar Henryco, Kamis (9/4/2026).
Henryco menjelaskan secara teknis proyek IPT berada di bawah kendali Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM). Namun Diskominfo turut diberi peran dalam pengawasan, khususnya pada aspek infrastruktur telekomunikasi yang menjadi bagian utama proyek.
“Proyek ini bukan sekadar penggalian biasa, melainkan penataan ulang jaringan kabel udara menjadi sistem ducting bawah tanah, mengurangi kesemrawutan kabel yang selama ini menjadi persoalan di Kota Bandung,” ucapnya.
Baca juga: Ayo Jaga Lingkungan dan Periksa Kabel Listrik Saat Cuaca Ekstrem Melanda Bandung
Diskominfo terus menjalin koordinasi intensif dengan pihak pelaksana proyek. Sejumlah perusahaan yang terlibat, PT BII dan PT BI, diminta menjalankan pekerjaan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan.
Henryco menegaskan jika ditemukan kekurangan dalam pengerjaan, perbaikan akan langsung dilakukan tanpa harus membongkar ulang secara keseluruhan, menjaga efisiensi sekaligus mempercepat penyelesaian proyek.
Selain itu, pihak pelaksana juga diwajibkan menyediakan layanan pengaduan atau hotline bagi masyarakat. Saluran ini menjadi sarana penting agar warga dapat melaporkan kondisi lapangan secara cepat.
Baca juga: Aktivitas Terminal Cicaheum Mulai Berkurang, Pemindahan Bus ke Leuwipanjang Dipercepat
“Hotline ini penting agar setiap keluhan bisa langsung ditindaklanjuti. Respons cepat sangat dibutuhkan, terutama jika ada gangguan di jalan atau lingkungan sekitar proyek,” katanya.
Henryco menambahkan keterlibatan masyarakat melalui laporan langsung dinilai mampu membantu pengawasan proyek secara lebih luas dan real time.
Di sisi lain, Henryco mengakui proyek infrastruktur seperti ini tidak lepas dari tantangan, terutama faktor cuaca. Hujan yang kerap turun dapat memengaruhi proses pengerjaan di lapangan.
Baca juga: SP3 Kasus Korupsi Erwin dan Rendiana, Kejari Bandung Cabut Status Tersangka
Meski begitu, ia optimistis proyek IPT dapat selesai sesuai target yang telah ditetapkan. Koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk meminimalisasi potensi keterlambatan.
Henryco pun menjelaskan proyek menyasar sekitar 16 hingga 20 titik ruas jalan di Kota Bandung. Lokasi-lokasi dipilih berdasarkan tingkat kebutuhan penataan jaringan dan kepadatan aktivitas masyarakat.
“Penataan kabel melalui sistem bawah tanah dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan estetika, keamanan, dan kenyamanan ruang publik di Kota Bandung,” ujar Henryco.(dsn)