Bergembiralah Menyambut Bulan Suci Ramadhan

oleh -
Bergembiralah Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Ketua MUI Jawa Barat, KH Rachmat Syafe'i

RAMADHAN merupakan bulan suci yang dapat menjadi momentum pengampunan atas kesalahan atau dosa-dosa yang telah diperbuat. Karenanya, muslim harus bergembira dalam menyambut bulan suci ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda, barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR.Bukhari dan Muslim).

Kita harus gembira saat menyambut Bulan Suci Ramadhan karena bulan ini banyak hikmahnya. Paling utama itu, Ramadhan merupakan bulan yang mensucikan dosa-dosa yang pernah kita lakukan.

Selain dengan menjalankan ibadah puasa, salat malam seperti tarawih, witir dan tahajud saat bulan Ramadhan pun memiliki keistimewaan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan (salat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR.Bukhari dan Muslim).

Yang paling bahagia nanti di akhirat adalah yang mendapatkan pengampunan, magfirah dari Allah SWT. Manusia tidak lepas dari kekurangan, dari kesalahan, maka Rasulullah menekan bahwa kita harus gembira, sebab ada kesempatan untuk mensucikan dosa-dosa itu.

Pada bulan Ramadhan ada kesempatan ruh untuk melakukan pembersihan atau yang disebutkan dengan tazkiyatun nafs, pembinaan, pembersihan jiwa. Berharap jasad itu dihinggapi ruh atau suatu nafs yang baik dan suci.

Maka kegembiraan dalam menyambut bulan penuh pengampunan ini. Selain bulan yang mensucikan, Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat. Bulan keselamatan karena pada bulan Ramadhan itu diturunkan Malaikat Rahmat, menyampaikan magfirah dari Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, hadis riwayat (HR) Ath Thabrani bahwa disampaikan, telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah meliputi kalian di dalam bulan tersebut, rahmat diturunkan, dosa-dosa dihapuskan dan doa-doa dikabulkan.

Allah akan melihat kalian semua berlomba-lomba di dalam bulan itu, maka Dia merasa bangga terhadap kalian dan para malaikat. Maka perlihatkanlah segala macam kebaikan diri kalian di hadapan Allah. Sebab orang yang celaka adalah orang yang terhalang mendapatkan rahmat Allah pada bulan tersebut.

Pahala dari kebajikan-kebajikan pada bulan ini pun akan berlipat ganda. Ramadhan juga dinamakan sebagai tuannya bulan-bulan yang lain. Sebagaimana riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri RA, bahwa penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan dan yang paling agung kesuciannya Dzulhijjah.

Tinggal bergantung pada kitanya mau mengambil kesempatan ini, yaitu gembira dengan melakukan kebajikan, bertaubat saat Ramadhan. Semua itu istimewa, berbeda ketika melakukan di bulan-bulan yang lain.

Ramadhan tahun ini dilaksanakan masih dalam masa pandemi. Kendati demikian, kondisi ini sepatutnya tidak mengurangi rasa khusyuk saat beribadah. Justru, kondisi pandemi dapat disikapi dengan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Di antaranya, dengan menjaga keselamatan jiwa saat pandemi.

Disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, misalnya, menjadi salah satu upaya menjaga keselamatan jiwa yang pada dasar sesuai ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur’an, surah Al-Maidah ayat 32, disampaikan bahwa barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Bulan Ramadhan ini melatih kepekaan, nilai dakwah di antaranya memberikan latihan rasa sosial tinggi. Maksudnya bagaimana kita itu menjaga dan merasakan bagaimana kehidupan orang lain. Bahwa barangsiapa yang menjaga hidup seseorang manusia, seolah-olah ia menjaga kehidupan seluruh kehidupan manusia. Ini pahalanya besar. (Ketua MUI Jawa Barat, KH. Rachmat Syafe’i)

Baca Juga: