Kerusuhan di Wamena 2.000 Orang Lebih Eksodus

oleh -
Rumah Zakat Kerusuhan Wamena
Rumah Zakat melakukan distribusi bantuan logistik, pendampingan psikosial, layanan medis serta melakukan pembersihan reruntuhan puing bangunan. (Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu berakibat memakan korban tewas 33 jiwa, luka-luka 84 jiwa, pengungsi lebih dari 7.278 jiwa dan eksodus warga 2.589 jiwa.

Data yang diterima Rumah Zakat Bandung, dampak kerusakan yakni 224 mobil terbakar, 150 motor terbakar, 465 ruko terbakar, 165 rumah terbakar, 5 gedung perkantoran terbakar dan 15 gedung perkantoran rusak berat.

CEO Rumah Zakat, Nur Efendi menjelaskan, tragedi kemanusiaan di Wamena mendorong Rumah Zakat mengirimkan relawan yang berkoordinasi dengan TNI dalam membantu para pendatang di Wamena.

“Para pengungi yang kami datangi itu pendatang dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Lampung, sementara warga asli Wamenanya sendiri mereka lebih memilih mengungsi ke bukit atau pegunungan. Jadi kami hingga saat ini belum ada kendala komunikasi karena mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia,” ujarnya kepada wartawan di Rumah Zakat cabang Bandung, Senin (30/9/2019).

Efendi menyebut, hasil laporan dari relawan yang berada di lokasi pengusian sangat didominasi oleh anak-anak, lansia dan wanita sehingga tak hanya hanya bahan pangan pokok yang diperlukan saat ini, melainkan selimut dan tikar, perlengkapan bayi, pakaian, hygine kit, obat-obatan dan pendampingan sosial.

“Kami baru bisa menerjunkan relawan medis dan psikosial hari ini, sebelumnya kami hanya menerjunkan 20 relawan untuk membantu operasional posko kemanusiaan di Sentani, Jayapura dan 5 relawan di Wamena untuk membuat dapur umum dan medistribusikan bantuan pangan untuk warga,” imbuhnya.

Saat ini pun, lanjut Efendi, dirinya masih ikut dengan posko yang didirikan TNI untuk proses distribusi mengingat masih maraknya jarahan jika mencoba mendirikan posko sendiri tercatat ada 2 posko yang didirikan di Wamena dan 1 posko di Sentani.

“Kendala lain juga akses transportasi, jika menggunakan pesawat dari Sentani ke Wamena hanya kurang lebih 2 jam saja. Tapi kalau tidak kebagian terpaksa menggunakan jalur darat yang bisa memakan waktu hingga 5 hari, dan itu sangat tidak dianjurkan,” ucapnya.

Efendi menyayangkan, tragedi kemanusiaan yang terjaid di Bumi Cendrawasih, Kota Wamena atas pembakaran dan suara tembakan beruntun yang terdengar diberbagai lokasi.

“Ini semua akibat dari hoaks yang akhirnya memicu kemarahan sejumlah warga. Jadi sebaiknya harus semakin bijak dalam bermedia sosial di era saat ini,” tutupnya.

(nida khairiyyah)